Ditahan, Bendahara Sembunyi di Pelukan Radar Lampung Online Jumat, 9 Januari 2015

Bandarlampung – Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandarlampung kemarin kembali menahan tersangka kasus korupsi dana kematian Dinas Sosial (Dissos) Bandarlampung 2012. Dia adalah Tineke yang berstatus bendahara dana kematian.

Sebelum penahanan, penyidik memeriksanya selama lima jam sejak pukul 09.00 hingga 14.00 WIB. Perempuan berkerudung itu menyusul M. Sarkum, tenaga sukarela, yang lebih dahulu merasakan pengapnya penjara pada Jumat (12/12/2014).

Tineke yang mengenakan baju lengan panjang bergaris-garis tampak begitu terpukul. Saat menuju mobil tahanan pidana khusus (pidsus) kejari, ia selalu menutupi wajahnya. Suaminya, Agus Setyawan, ikut melindunginya dari bidikan kamera wartawan.

Sambil memeluk sang istri, Agus menelepon keluarganya untuk memberitahukan masalah itu. Matanya memerah, berkaca-kaca, berusaha menahan agar air matanya tak jatuh. ’’Penyidik menahannya (Tineke). Saya bawa motor,” ujar Agus di telepon.

Tineke dibawa ke Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Bandarlampung yang terletak di Wayhui, Lampung Selatan, dengan pengawalan Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Fredy Simanjuntak. ’’Maaf Mas, saya tidak berkomentar dahulu,” tangkis Agus saat dimintai tanggapannya.

Kepala Kejari Bandarlampung Widiyantoro menjelaskan, Tineke akan ditahan selama 20 hari di Wayhui untuk memperlancar pemberkasan perkaranya. Jika belum selesai, dia akan memperpanjang penahanan yang bersangkutan. ’’Tineke memberikan uang dana kematian begitu saja ke M. Sarkum tanpa prosedur,” ungkapnya.

Menurut dia, seharusnya dana dikucurkan setelah ahli waris warga yang meninggal dapat menunjukkan bukti-bukti. Akibat tindakan inprosedural ini, negara dirugikan Rp2,2 miliar dari total anggaran Rp2,5 miliar. Hal itu diperkuat perhitungan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Lampung. ’’Penyidik telah memiliki bukti-bukti kuitansinya,” ungkap dia.

Lalu, bagaimana dengan Kadissos Bandarlampung Akuan Effendi yang juga menjadi tersangka dalam kasus ini? Widi –sapaan akrabnya–menerangkan, seharusnya kemarin Akuan ikut diperiksa. Namun ternyata, istrinya memberikan surat sakit dari dokter yang menerangkan Akuan harus beristirahat selama dua hari. ’’Secepatnya kita jadwal ulang pemeriksaannya,” urai dia.

Penetapan ketiga tersangka kasus ini tertuang dalam surat dengan nomor registrasi berurutan. Yakni B.2292, B.2293, dan B.2294/N.8.10/Fd.I/04/2014. Mereka diduga telah memanipulasi data kematian warga Bandarlampung.

Salah satu kejanggalan yang ditemukan kejari, ada warga yang sudah meninggal pada 2011, namun dimasukkan dalam daftar penerima bantuan 2012. Per satu orang, dana bansos dialokasikan Rp500 ribu.

Terpisah, Direktur Advokasi Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Lampung Juendi Leksa Utama meminta pihak kejari tidak langsung begitu saja percaya pada alasan sakit tersangka. ’’Cek dahulu kebenarannya,” ingat dia.

Juendi meminta kejari tidak tebang pilih. Sebab, tindakan para tersangka telah mencederai program Wali Kota Bandarlampung Herman H.N. yang berupaya bersimpati atas warganya.

’’Ini program bagus wali kota. Kejari harus berani menahan semua tersangka, jangan sampai ada penilaian diskriminatif,” tandasnya. (why/p2/c1/ade)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s