Arus Bawah Laut Deras, Evakuasi Ekor Gagal Radar Lampung Online Jumat, 9 Januari 2015

SELAT KARIMATA – Upaya mengangkat ekor pesawat AirAsia QZ 8501 yang jatuh di sekitar Selat Karimata kemarin (8/1) belum berhasil dilakukan. Panglima TNI Jenderal Moeldoko yang memimpin langsung evakuasi memutuskan pengangkatan penyelam karena arus bawah laut yang sangat kencang.

Arus bawah laut mulai kencang menjelang siang. Kecepatan arus mencapai 3-5 knot. Visibility dasar laut juga antara 0-1 meter. Kondisi itu yang membuat penyelam gabungan TNI-AL kesulitan masuk lebih dalam. Bagian belakang pesawat yang terbelah akhirnya belum dipasang sabuk dan kantong udara. Sebab, para penyelam kesulitan sampai ke dasar laut.

Para penyelam yang diterjunkan kemarin antara lain Letda Laut (KH) Edi Abdilah, Kopda Navigasi (Nav) Kiswanto, dan Kopda Telegram (Tlg) Anton Sudarmanu. Dua lainnya, Kelasi Listrik (Lis) Joko Santoso dan Kelasi Kepala Tata Graha (Ttg) Kristanto. ’’Saat menuruni tali sampai kedalaman 5 meter, kami seperti bendera yang dikibas angin,” papar Edi di hadapan Moeldoko usai penyelaman sesi kedelapan.

Edi berusaha menyelam lebih dalam meski perlahan. Jarak pandang terbatas, berkisar 1-1,5 meter. Penggunaan oksigen pun menjadi lebih boros. Tidak terasa menapaki menit ke-10, jarum nanometer menunjuk angka 50. Tanda O2 tinggal separuh. Tak mau berisiko, Edi cs memilih kembali ke perahu karet.

Permasalahan evakuasi lainnya terletak pada kapasitas lifting bag untuk mengangkat ekor pesawat. Kemarin hanya tersedia dua kantong pengembang yang lazim dipakai Dislambair untuk mengangkat kapal karam di perairan dangkal.

Peralatan itu tentu kurang memadai untuk proses evakuasi ekor pesawat yang terjerembab di perairan dalam. Selain lifting bag yang kurang memadai, kapasitas crane di kapal juga maksimal 3 ton. Padahal, berat ekor pesawat diperkirakan 5 ton.

Pangarmabar Laksda TNI Widodo dalam paparannya di hadapan Moeldoko menyebutkan berat 1/3 bagian depan pesawat 12 ton. Sedangkan 2/3 bagian memiliki berat 25 ton. Dengan kondisi seperti itu, TNI-AL membutuhkan dukungan crane yang sanggup membantu proses pengangkatan dan pemindahan ke ponton. Sedangkan posisi ponton terdekat saat ini berada di Semarang.

Mendengar penjelasan itu, Moeldoko memutuskan penyelaman dimulai lagi Jumat (9/1) pukul 05.00. ’’Diskusikan bersama agar tim penyelam begitu turun bisa langsung ikat dan angkat,” tegas Moeldoko.

Untuk memenuhi kebutuhan evakuasi, sekitar pukul 19.00, Armada TNI-AL wilayah timur (Armatim) memberangkatkan KRI Ahmad Yani ke sasaran operasi. Kapal perang itu mengangkut 12 lifting bag. Rinciannya lifting bag berkekuatan 35 ton 2 buah, 10 ton (3), 5 ton (2), 2 ton (1), 500 kg (4).

’’Kami juga mengirim 15 personel dari Dislambair (Dinas Penyelaman Bawah Air),” ujar Kadispen Armatim Letkol Laut (KH) Maman Sulaeman. Selain dibawa dengan kapal, TNI-AL juga mengirimkan tujuh lifting bag berkekuatan total 110 ton lewat pesawat udara. Rinciannya kapasitas 35 ton (2 buah), 10 ton (3), dan 5 ton (2).

Lifting bag yang dikirim lewat pesawat itu mendarat di Lanud Iskandar sekitar pukul 19.05. Kepala Tim Penyelaman Dislambair Armatim Kapten Laut Saiful Afrianto berharap hari ini cuaca bagus sehingga bisa memasang alat ini dan mengangkat ekor pesawat. Jika kondisi bawah air dan cuaca bagus, pemasangan alat itu butuh waktu sekitar 20-25 menit.

Setelah alat terpasang pada objek, balon kemudian diisi angin dari kompresor yang ada di atas kapal. Setelah mengembangkan, objek sudah diangkat akan perlahan-lahan naik ke atas. Dari situ proses memindahkan ke ekor pesawat ke ponton akan lebih mudah.

Dirops Basarnas Marsma SB Supriyadi mengatakan semua kegiatan pencarian bawah laut masih menemui kendala. Bukan hanya penyelam namun juga alat remote operated vehicle atau ROV.

“Penelitian di sembilan obyek yang ditentukan masih nihil hasilnya,” papar Supriyadi. Temuan terbaru hanya penampakan slide scan benda dengan dimensi 10 x 5 m. “Tapi itu baru hasil scaning, belum penyelaman. Besok kalau cuaca baik, kita akan laksanakan penyelaman,” imbuhnya. Basarnas juga menambah armada laut yang memiliki kekuatan slide scan bawah laut.

Penemuan lain yang terjadi sepanjang hari kemarin ialah empat benda berupa kotak aluminium berdimensi 25 cm x 25 cm x 50 cm dan dua botol air mineral 500 ml berlogo salah satu produsen air minum dalam kemasan yang di-branding AirAsia.

Dua benda lain adalah kantong plastik oksigen saat kondisi darurat dan serpihan dinding lambung kapal bagian dalam berukuran kurang dari 1 meter x 1 meter.

Kotak aluminium di bagian muka terdapat tulisan logo AirAsia di bagian tengah bawah dan tulisan “CREW WATER 24 BTL”. Bagian depan kotak pada sisi kanannya dilengkapi engsel untuk membuka kotak. Beratnya tidak lebih dari 2 kilogram.

Sedangkan kantong plastik oksigen warna putih doof yang tersambung masker warna kuning dan selang sepanjang 40 sentimeter tidak termasuk tabung O2 portable yang biasa tersimpan di bawah almari kabin dalam penumpang pesawat.

Empat objek itu diamankan tiga personel penyelam TNI AL. Dua penyelam di antaranya, Serma Mar Boflen Sirait dan Serka Mar Oo Sudarmo yang kali pertama menemukan bagian belakang pesawat pada penyelaman ke empat Rabu (8/1).

Mereka dibantu seorang penyelam Dinas Penyelamatan Bawah Air Komando Armada RI Kawasan Barat Kelasi Navigasi (Nav) Edi Susanto untuk merekam proses pencarian dalam bentuk kamera video dan kamera foto bawah air.

Menurut Komandan Gugus Keamanan Laut Armabar Laksamana Pertama TNI Abdul Rasyid yang mengomando dari KRI Banda Aceh, penyelaman kali ketujuh dimulai pukul 06.53 di kedalaman 33 meter dengan jarak pandang semeter.

Cuaca mendung disertai sesekali hujan membuat penerangan di bawah permukaan air redup. Butuh waktu sampai 3 menit untuk sampai dasar tempat pesawat terbenam. “Menindaklanjuti penemuan sehari sebelumnya, saya perintahkan penyelam yang sama turun untuk mempermudah pekerjaan karena sudah tahu jalan ke mana menuju sasaran,” ujar Rasyid didampingi tim penyelam gabungan.

Boflen cs butuh waktu sekitar tiga menit karena lokasi sudah ditandai berupa tali penanda pelampung buoy warna oranye menuju dasar laut.

Di bagian ekor pesawat yang terbenam juga sudah dipasangi pemancar sinyal beacon dari kapal Geo Survey. Pemancar untuk menandai bahwa lokasi tersebut sudah diselami. Harapannya pada penyelaman berikutnya, penyelam diarahkan ke bagian lain badan pesawat.

Dalam penyelaman kemarin, tiga penyelam itu berusaha masuk ke dalam ruang kabin belakang. Kondisi sepertiga badan bagian belakang miring ke kanan dengan bagian depan agak terangkat. “Posisi seperti nungging. Ekornya terlihat nancap di lumpur dasar laut,” terang Boflen.

Di dalam ruangan yang cahayanya remang-remang itu mereka ekstra hati-hati. Penyelaman ketujuh kemarin pagi berlangsung lebih lama dari sebelumnya. Masing-masing penyelam dibekali dua tabung yang terikat di punggung. Pada penyelaman keempat-keenam sehari sebelumnya, masing-masing personel membawa sebuah tabung saja.

“Banyak objek seperti kabel-kabel di bodi dalam pesawat membuat kami tidak bisa leluasa bergerak. Kami hanya bisa membawa benda-benda tersebut khawatir terlilit di dalam ruangan,” beber penyelam kelahiran Medan berumur 46 tahun itu.

Penyelam pasangannya, Oo Sudarmo kompak. Tekadnya membawa benda dari dalam ruangan kabin AirAsia sebagai bukti. Pada penyelaman sehari sebelumnya, mereka masih mengobservasi dan memotret sejumlah bagian bodi belakang. “Begitu mengetahui itu ekor pesawat, saya sempat memeluknya lantaran merasa suka cita,” kenang penyelam dari Garut itu.

Dalam penyelaman lanjutan itu hingga masuk ke dalam ruang pesawat, mereka melihat lemari kabinet tempat menyimpan makanan penumpang. Pada bagian atasnya kotak tempat air minum kru. Saat dia buka, jumlahnya masih penuh. Lantaran saat ditarik dengan kotaknya terasa berat, beberapa botol air mineral mereka keluarkan.

“Agak buru-buru juga membawanya jadi banyak botol terjatuh,” lanjutnya. Penyelam berusia 43 tahun itu merasa situasi pagi kemarin lebih berat dari penyelaman sebelumnya. Kecepatan arus bawah tercatat sekitar 2-3 knot. Dari dua tabung oksigen yang mereka bawa, satu tabung habis dan satu tabung lagi nyaris tidak tersisa. Sebelum tabung kedua ludes, Boflen memutuskan mereka naik ke perahu karet.

Sedangkan Edi sebatas ditugasi mendokumentasikan aktivitas dua rekannya dan merekam bagian-bagian badan belakang pesawat dari berbagai sudut. “Berhubung dokumentasi pada penyelaman sebelumnya hanya berupa foto, saya diperintah mengambil gambar bergerak dengan kamera video,” timpal Edi.

Di tempat yang sama, supervisor penyelaman gabungan Kapten Laut (P) Wido Dwi Nugraha menjelaskan, sebanyak 57 penyelam gabungan TNI AL dari empat satuan sampai kemarin menempati dua posko. Empat satuan itu Dinas Penyelamatan Bawah Air dan Satuan Komando Pasukan Katak Koarmabar, Batalyon Intai Amfibi Pasukan Marinir-2 Jakarta, dan Detasemen Jala Mengkara.

Posko pertama di kapal Geo Survey diperkuat 17 penyelam. Selebihnya yang 40 siaga di KRI Banda Aceh. Berdasarkan rencana penyelaman kemarin, mereka menurunkan tujuh perahu karet. Pada penyelaman pagi, sebanyak tiga perahu karet beroperasi di atas buoy, penanda lokasi bagian belakang pesawat. “Masing-masing perahu karet ada lima personel dengan rincian tiga penyelam, seorang motoris, dan seorang attandent (pengatur lalu lintas) distribusi peralatan,” tukasnya.

Antisipasi Black Box Berkarat

Seiring ditemukannya ekor pesawat oleh tim penyelam gabungan TNI-AL, strategi mengevakuasi black box pun mulai dirancang Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Mereka menyiapkan kotak berisi air untuk menghindari peranti yang memuat data-data penerbangan itu berkarat karena lama berada di air laut.

Investigator KNKT Nurcahyo Utomo mengatakan, kotak berisi air itu disiapkan untuk menyimpan black box sesaat setelah diambil dari bawah laut. “Black box harus terus direndam air tawar sampai berhasil dibawa ke Jakarta,” ujar pria yang sudah 14 tahun bekerja di KNKT itu.

Setelah sampai di Jakarta, kondisi black box akan dikeringkan terlebih dulu. Lalu, diberi zat pencegah karat dan diteliti tingkat kerusakannya. Jika kerusakan tak terlalu parah, butuh waktu sekitar dua hari untuk membacanya. “Membaca saja, belum menganalisa,” katanya.

Namun, berbeda lagi jika kondisi black box rusak parah, maka perlu waktu yang panjang untuk merangkainya. Dia mencontohkan, kondisi black box Sukhoi Superjet 100 yang menabrak Gunung Salak. Kala itu, black box terbakar sehingga untuk membacanya saja butuh waktu dua minggu.

Black box pesawat yang berwarna orange terdiri atas dua alat perekam, yakni flight data recorder (FDR) dan voice cockpit recorder (VCR). FDR dan VCR itu berada di sebelah kanan atas bagian ekor pesawat.

Untuk mengevakuasi black box itu, KNKT telah menyiapkan enam pendeteksi sinyal underwater locator beacon (ULB) yang berada di black box. Enam pendeteksi itu berada di tiga kapal milik Dirjen Perhubungan Laut, yakni KN Andromeda, KN Jadayat, dan Alugara yang telah merapat di lokasi penemuan ekor pesawat.

Nurcahyo menegaskan proses pembacaan dan analisa black box itu sepenuhnya akan dilakukan di Indonesia. “Sejak 2009 KNKT sudah punya lab. Kita juga punya ahli yang telah di sekolahkan ke Australia dan teknologi baik software dan hardware kita selalu update,” tegasnya.

Jika tidak terjadi kerusakan yang berarti, black box itu bisa dengan mudah dicopot. Ada dua baut yang mengikat piranti itu. Baut itu juga bisa dibuka dengan tangan. “Tapi kita belum tahu itu kondisinya baik atau tidak, kalau bautnya bengkong ya susah melepasnya,” terangnya.

KNKT mengaku sudah menggelar briefing dengan tim Basarnas yang akan melakukan evakuasi ekor pesawat. Tujuannya agar evakuasi itu tak malah merusak kondisi black box. Menurut dia dalam kasus ini lebih baik seluruh bagian pesawat memang diambil. Meskipun proses pengambilannya dipotong-potong namun tetap saja KNKT bisa mendeteksi serpihan-serpihan tersebut.

Nurcahyo mengaku sejumlah barang pesawat yang ditemukan nantinya sebisa mungkin semuanya dibawa ke Jakarta. “Saat ini memang masih ada di sini (Pangkalan Bun) dan Surabaya. Kita harapkan nanti semuanya terkumpul di Jakarta,” jelasnya.

Barang temuan yang sudah diidentifikasi KNKT antara lain kursi penumpang satu deret (tiga seat) nomor 17, 22, dan 26. Selain itu ada juga kursi pramugari belakang (satu set). Barang lain yang ditemukan ialah peluncur darurat bagian belakang dan depan (kiri-kanan). (jpnn/p2/c1/ade)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s